<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Islam</title>
	<atom:link href="http://artikelislam.e-salim.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://artikelislam.e-salim.com</link>
	<description>Kumpulan Artikel Islam e-Salim.com</description>
	<pubDate>Fri, 21 May 2010 08:08:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Wanita yang Berpakaian Tapi Telanjang, Sadarlah!</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/21/wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/21/wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 07:53:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Adab & Akhlak]]></category>

		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[
Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para  wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang  dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi.  Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai  celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://goblueridgecard.com/blog/files/2008/04/blue-ridge-flower.jpg" alt="" width="215" height="143" /></p>
<p>Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para  wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang  dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi.  Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai  celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah  kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini.</p>
<p>Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan  semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun  lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat  akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga  kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini. <span id="more-476"></span></p>
<h1 dir="ltr"><strong><span style="font-size: 12pt;">Tanda Benarnya  Sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></span></strong></h1>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>“<em>Ada d</em><em>ua</em><em> golongan dari penduduk neraka yang  belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor  sapi untuk memukul manusia dan [2] <strong>para wanita yang berpakaian  tapi telanjang</strong>, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk  unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak  akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan </em><em>sekian</em><em> dan </em><em>sekian</em>.” (HR. Muslim no. 2128)</p></blockquote>
<p>Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini  sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan  semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam </em>karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini  baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat <em>Syarh Muslim</em>,  9/240 dan <em>Faidul Qodir</em>, 4/275).</p>
<p><em>Wahai Rabbku. Dan zaman ini  lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah. </em></p>
<h1 dir="ltr"><strong><span style="font-size: 12pt;">Saudariku,  pahamilah makna ‘<em>kasiyatun ‘ariyatun</em>’</span></strong></h1>
<p>An Nawawi dalam <em>Syarh Muslim</em> ketika menjelaskan hadits di  atas mengatakan bahwa ada beberapa makna <em>kasiyatun ‘ariyatun</em>.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Makna pertama</strong>: wanita yang mendapat nikmat Allah,  namun enggan bersyukur kepada-Nya.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Makna kedua</strong>: wanita yang mengenakan pakaian, namun  kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta  enggan melakukan ketaatan kepada Allah.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Makna ketiga</strong>: wanita yang menyingkap sebagian  anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang  dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Makna keempat</strong>: wanita yang memakai pakaian tipis  sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun  sebenarnya telanjang. (Lihat <em>Syarh Muslim</em>, 9/240)</p>
<p>Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna  konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan  oleh ulama lainnya sebagai berikut.</p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah  mengatakan, “Makna <em>kasiyatun ‘ariyatun</em> adalah para wanita yang  memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian  tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan  sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka  telanjang.” (<em>Jilbab Al Mar’ah Muslimah</em>, 125-126)</p>
<p>Al Munawi dalam <em>Faidul Qodir</em> mengatakan mengenai makna <em>kasiyatun  ‘ariyatun</em>, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun  sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang  tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia  menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa.  Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk  bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun  kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup  sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang  wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (<em>Faidul Qodir, </em>4/275)</p>
<p>Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan  bahwa makna <em>kasiyatun ‘ariyatun</em> ada tiga makna.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga  nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab,  namun sebenarnya dia telanjang.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Kedua</strong>: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya  (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun  kosong dari syukur kepada-Nya. (<em>Kasyful Musykil min Haditsi Ash  Shohihain</em>, 1/1031)<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong> adalah <em>kasiyatun ‘ariyat</em> dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak  bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib  dia tutup.</p>
<h1 dir="ltr"><strong><span style="font-size: 12pt;">Tidakkah Engkau  Takut dengan Ancaman Ini</span></strong></h1>
<p>Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakaian  pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu  ‘alaihi wa sallam, “<em>wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan  tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan </em><em>sekian</em><em> dan </em><em>sekian</em>.”</p>
<p>Perhatikanlah saudariku, ancaman ini  bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan  hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di  atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga  saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?</p>
<p>An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam: ‘<em>wanita tersebut tidak akan masuk surga</em>’.  Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:</p>
<p>Jika wanita tersebut  menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah  mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka  anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian  yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia  tidak akan masuk surga selamanya.</p>
<p>Dapat kita maknakan juga bahwa  wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika  memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. <em>Wallahu  Ta’ala a’lam. </em>(Lihat <em>Syarh Muslim</em>, 9/240)</p>
<p>Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih  membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi  betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang  lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib  ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus  ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!<br />
<em></em></p>
<p><em>Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah  Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi  yang lebih baik &#8230;.</em></p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam dari <a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/1613-wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah.html" target="_blank">rumaysho.com</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/21/wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/21/wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/21/wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pencetus Larangan Masjid Di Swiss Itu Kini Masuk Islam</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/11/sang-pencetus-larangan-masjid-di-swiss-itu-kini-masuk-islam</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/11/sang-pencetus-larangan-masjid-di-swiss-itu-kini-masuk-islam#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 03:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aktual]]></category>

		<category><![CDATA[Muallaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[
Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang  pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang  pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan  mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari  Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/internasional/daniel-streich-militarinstruktor.jpg" alt="" width="230" height="153" /></p>
<p>Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang  pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.</p>
<p>Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang  pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan  mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari  Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat  heboh Swiss.</p>
<p><span id="more-464"></span>Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero  negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat  Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar  dan kubah masjid.</p>
<p>Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa  diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya  begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai  keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.</p>
<p>Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada  empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia  mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam.  Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh  status hukum.</p>
<p>Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk  kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki  keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari  mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama  halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich  mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.</p>
<p>Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia  mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai.  Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan  militer di Swiss Army karena popularitasnya.</p>
<p>Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi  komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam  memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati  terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia  memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.</p>
<p>Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab  dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan  melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya  di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich  mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang  tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol)</p>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam dari <a href="http://www.eramuslim.com/berita/dunia/sang-pencetus-larangan-masjid-di-swiss-itu-kini-masuk-islam.htm" target="_blank">eramuslim.com</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/11/sang-pencetus-larangan-masjid-di-swiss-itu-kini-masuk-islam" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/11/sang-pencetus-larangan-masjid-di-swiss-itu-kini-masuk-islam" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/11/sang-pencetus-larangan-masjid-di-swiss-itu-kini-masuk-islam/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Beribadah Di Kuburan</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/04/larangan-beribadah-di-kuburan</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/04/larangan-beribadah-di-kuburan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 03:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Abu Nida` Chomsaha Sofwan
Di dalam al Qur`an, Allah telah menyifati Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi  wa salllam dengan banyak sifat terpuji. Di antaranya, Allah menyifati  beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai seorang yang sangat  menginginkan keimanan dan keselamatan umat ini, dan amat belas kasihan  lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Salah satu bentuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://assunnahsurabaya.files.wordpress.com/2007/12/bonang1.gif" alt="" width="297" height="228" /></p>
<p><em>Oleh Abu Nida` Chomsaha Sofwan</em></p>
<p>Di dalam al Qur`an, Allah telah menyifati Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi  wa salllam dengan banyak sifat terpuji. Di antaranya, Allah menyifati  beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai seorang yang sangat  menginginkan keimanan dan keselamatan umat ini, dan amat belas kasihan  lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Salah satu bentuk  kesempurnaan keinginan beliau n yang kuat agar umatnya beriman dan  selamat adalah, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memperingatkan  ummatnya dari segala sarana yang dapat menggiring kepada kesyirikan, dan  menutup seluruh celah yang dapat mengantarkan kepada perbuatan syirik.</p>
<p><span id="more-461"></span>Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam benar-benar bersikap keras dan  tegas dalam masalah syirik. Bahkan, khawatir dianggap luput menekankan  bahayanya, perihal syirik ini masih juga dijelaskan saat beliau  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah mendekati masa-masa sakaratul maut.</p>
<p>Salah satu sarana dan celah yang dapat mengantarkan kepada perbuatan  syirik, yaitu beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih.  Perbuatan ini telah menjadi fenomena yang telah lama ada, dan bahkan  menjadi kebiasaan sebagian besar kaum muslimin di negeri ini. Bahkan  bukan lagi beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih tersebut,  tetapi telah beribadah kepada orang shalh yang menghuni kuburan  tersebut.</p>
<p>Kuburan-kuburan orang shalih atau tempat-tempat yang konon  merupakan lokasi kuburan orang shalih dikunjungi, lalu melakukan beragam  peribadahan di sisinya, seperti: berdoa, shalat, membaca al Qur`an,  thawaf, sedekah dan sebagainya.</p>
<p>Padahal dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,  dapat diketahui, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat keras  sikap nya terhadap orang-orang yang beribadah kepada Allah di sisi  kuburan orang yang shalih. Kalau beribadah kepada Allah di sisi kubur  saja, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersikap keras, tentu akan  lebih keras lagi jika sampai beribadah kepada penghuni kubur tersebut.</p>
<p>Berikut adalah hadits-hadits mengenai larangan tersebut :</p>
<p>1. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari’ Aisyah  Radhiyallahu &#8216;anha, bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu &#8216;anha (salah seorang  istri Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) menceritakan kepada  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang gereja dengan  rupaka-rupaka di dalamnya yang dilihatnya di Negeri Habasyah (Ethiopia).  Maka Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<blockquote><p>&#8220;Mereka itu, apabila ada orang yang shalih -atau hamba yang shalih-  meninggal di antara mereka- mereka bangun di atas kuburnya sebuah tempat  ibadah, dan mereka buat di dalam tempat itu gambar-gambar mereka;  mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah.</p></blockquote>
<p>Sabda beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam “mereka itulah makhluk yang  paling buruk di hadapan Allah” menunjukkan haramnya membangun  masjid-masjid di atas pekuburan, dan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam melaknat orang yang melakukan hal itu. Perbuatan itu merupakan  sarana yang mengantarkan kepada kekufuran dan kesyirikan, yang secara  nyata merupakan kezhaliman yang paling besar.</p>
<p>Al Baidhawi berkata: “Tatkala orang-orang Yahudi dan Nasrani bersujud  kepada kuburan para nabi dengan maksud mengagungkan derajat mereka, dan  menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai kiblat, yang mereka  menghadap dalam shalat, serta menjadikannya sebagai berhala-berhala,  maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melaknat mereka”.</p>
<p>Imam al Qurthubi berkata,”Mula-mula, para pendahulu mereka memahat  gambar-gambar tersebut agar mereka dapat menjadikannya sebagai suri  teladan dan mengenang perbuatan-perbuatan shalih mereka, sehingga dapat  memiliki kesungguhan beribadah yang sama seperti mereka; karenanya,  mereka beribadah kepada Allah di sisi kuburan-kuburan mereka. Kemudian  setelah mereka meninggal, datanglah generasi yang tidak mempunyai  pengetahuan yang cukup terhadap agama, sehingga tidak mengerti maksud  dari pendahulu mereka tersebut; lalu setan merasuki mereka dengan  menyatakan, bahwa para pendahulu mereka tersebut sebenarnya telah  menyembah rupaka-rupaka ini dan mengagungkannya. Oleh karena itu, Nabi  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang terjadinya hal tersebut untuk  menutup segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tersebut.”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”(Mereka dikatakan  sebagai makhluk yang paling buruk), karena memadukan dua fitnah  sekaligus. Yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di  atasnya dan fitnah membuat gambar-gambar.” Keduanya disebut fitnah,  karena memalingkan manusia dari agama.</p>
<p>Beliau rahimahullah juga berkata,”Hal inilah yang dipakai Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai alasan untuk melarang membangun  masjid-masjid di atas kuburan-kuburan, karena telah banyak menjerumuskan  umat-umat sebelumnya, baik ke dalam syirik besar maupun syirik lainnya  yang lebih ringan. Banyak orang cenderung melakukan perbuatan syirik  terhadap patung orang shalih dan patung-patung yang mereka anggap bahwa  ia merupakan garis-garis rajah dari bintang-bintang, dan hal lain yang  serupa dengan bintang. Ini terjadi, karena berbuat syirik dengan  menyembah kuburan orang yang diyakini keshalihannya lebih terasa di  dalam jiwa, daripada berbuat syirik dengan menyembah pohon atau batu.</p>
<p>Oleh karena itu pula, Anda mendapatkan ahli syirik memohon di sisi  kuburan dengan penuh kesungguhan, penuh kekhusyuan dan sikap berserah  diri, serta menyembahnya dengan sepenuh hati, padahal ibadah yang  seperti itu tidak pernah mereka lakukan di rumah-rumah Allah ataupun di  waktu tengah malam menjelang Subuh. Di antara mereka ada yang bersujud  kepada kuburan itu. Ketika melakukan shalat dan berdoa di sisi kuburan  tersebut, kebanyakan mereka mengharapkan keberkahan, yang tidak pernah  mereka harapkan ketika berada di masjid-masjid.</p>
<p>Lantaran perbuatan tersebut dapat menimbulkan kerusakan, maka dengan  tanpa ragu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengikisnya.  Sampai-sampai beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang shalat di  pekuburan secara mutlak, meskipun orang melakukannya tidak dengan maksud  mengharapkan berkah tempat tersebut sebagaimana ia mengharapkannya  ketika shalat di dalam masjid.</p>
<p>Begitu pula beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam melarang umatnya melakukan shalat pada waktu terbit dan  tenggelamnya matahari, karena waktu-waktu tersebut digunakan oleh kaum  musyrikin untuk menyembah matahari. Karenanya, beliau Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam melarang umatnya shalat pada waktu-waktu tersebut,  meskipun mereka tidak memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kaum  musyrikin tadi. Hal ini sebagai upaya beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam menutup rapat celah-celah menuju kesyirikan.</p>
<p>Adapun bila seseorang melakukan shalat di sisi kuburan dengan maksud  untuk mendapatkan keberkahan melalui shalat di sisi kuburan tersebut,  maka ini jelas merupakan sikap memusuhi Allah dan RasulNya, melanggar  aturan agamaNya, mengada-adakan sesuatu di dalam agama yang tidak pernah  Allah izinkan. Kaum muslimin telah bersepakat secara ijma’, bahwa di  antara perkara-perkara mendasar dalam agama, yaitu mengetahui bahwa  shalat di sisi kuburan adalah dilarang.</p>
<p>Dan Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam melaknat orang yang mengfungsikan kuburan sebagai  masjid. Karena itu, di antara perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang paling  besar dan merupakan sebab-sebab terjadinya kesyirikan adalah melakukan  shalat di sisi kuburan dan mengfungsikannya sebagai masjid, serta  mendirikan masjid-masjid di atasnya. Nash-nash dari Nabi Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam yang melarang hal itu, dan memperingatkan pelakunya  secara keras sangatlah banyak dan mutawatir. Seluruh kelompok umat  secara jelas dan terang-terangan melarang untuk mendirikan masjid-masjid  di atasnya, karena mereka mengikuti sunnah yang shahih dan sharih  (jelas).</p>
<p>Para ulama pengikut Imam Ahmad dan ulama yang lain, yakni pengikut Imam  Malik dan Imam Syafi’i, secara terang-terangan mengharamkan perbuatan  tersebut. Ada juga yang menyatakan, hal itu sebagai perbuatan makruh,  namun sepatutnya membawa maknanya kepada karahah at tahrim (makruh yang  berindikasi pengharaman) sebagai tanda bersangka baik kepada para ulama  yang menyatakan demikian, sehingga mereka tidak disangka membolehkan  perbuatan yang secara mutawatir dilarang oleh Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam dan pelakunya beliau laknat.”</p>
<p>2. Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha,  bahwa ia pernah berkata: Tatkala Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam hendak diambil nyawanya, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun  segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau Shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan napas. Ketika  dalam keadaan demikian, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote><p>&#8220;Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani,  mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah  (masjid)&#8221;.</p></blockquote>
<p>Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan hal itu saat mendekati  kematiannya, untuk memperingatkan umatnya dari perbuatan mereka (Yahudi  dan Nasrani) itu. Seandainya bukan karena peringatan beliau Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam tersebut, niscaya kubur beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam akan ditampakkan; hanya saja beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  khawatir, jika (kubur beliau) akan dijadikan sebagai tempat ibadah.”</p>
<p>Syaikh Shalih Alu asy Syaikh menjelaskan, ada tiga bentuk menjadikan  kuburan sebagai tempat ibadah.</p>
<p><strong>Pertama </strong>: Menjadikan kuburan itu sebagai tempat sujudnya. Bentuk yang  paling bisa dipahami dari perkataan ‘mereka menjadikan kuburan tersebut  sebagai masjid’ ialah, menjadikan kuburan sebagai masjid. Yaitu tempat  melakukan shalat dan sujud di atasnya. Demikian ini jelas merupakan  sarana yang sangat berbahaya, dan paling merusak yang mengantarkan  kepada syirik dan berlaku ghuluw kepada kuburan.</p>
<p><strong>Kedua </strong>: Shalat ke arah kuburan. Makna menjadikan kuburan sebagai masjid  dalam bentuk ini, yaitu seseorang shalat di hadapan kuburan dengan  menjadikannya sebagai kiblatnya. Dengan kondisi ini, dia telah  menjadikan kuburan sebagai tempat ia merendahkan dan menghinakan  dirinya.</p>
<p>Masjid di sini bukan lagi semata-mata berarti tempat sujud –meletakkan  dahi di atas tanah–, tetapi berarti tempat merendahkan dan menghinakan  diri. Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid, maksudnya,   menjadikannya sebagai kiblat. Karena itu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam melarang shalat ke arah kuburan, karena merupakan salah satu  sarana kepada sikap pengagungan kuburan.</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Menjadikan kuburan berada di dalam suatu bangunan, dan bangunan  itu adalah masjid. Jika yang dikubur itu seorang nabi, maka mereka  membuat bangunan di atasnya. Mereka lantas menjadikan di sekeliling  kuburan itu sebagai masjid dan menjadikan tempat itu sebagai tempat  beribadah dan shalat.</p>
<p>Adapun perkataan ‘Aisyah bahwa ‘beliau memperingatkan (umatnya) dari  perbuatan mereka (Yahudi dan Nasrani)’, maka di dalamnya terdapat  isyarat yang menjadi penyebabnya. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,  yang sedang dalam keadaan sakaratul maut, melaknat Yahudi dan Nasrani  dalam hadits ini. Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ingin  memperingatkan para sahabatnya agar jangan sampai mengikuti  langkah-langkah kedua Ahli Kitab tersebut. Dan ternyatalah mereka, para  sahabat, menerima peringatan beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  itu  dan mengamalkan wasiat beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Kemudian perkataan ‘Aisyah ‘dan seandainya bukan karena hal itu, niscaya  kuburan beliau ditampakkan’. Maksudnya, kalau bukan karena peringatan  dan kekhawatiran beliau n bahwa kuburan beliau dijadikan masjid oleh  umatnya sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani, niscaya kuburan beliau  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berada di luar rumahnya, berdampingan  dengan kuburan-kuburan para sahabat di Baqi atau selainnya. Di samping  alasan ini, ada juga alasan lain, yaitu sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam, sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Bakar Radhiyallahu  &#8216;anhu:</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya para nabi itu dikuburkan di mana mereka diwafatkan&#8221;.</p></blockquote>
<p>Adapun Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah dimaklumi,  bahwa beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  wafat di dalam rumah  ‘Aisyah.</p>
<p>Kemudian perkataan ‘Aisyah selanjutnya ‘hanya saja beliau khawatir  (kuburannya) akan dijadikan sebagai tempat ibadah’, terdapat dua  riwayat.</p>
<p>Berdasarkan riwayat pertama, maka Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam sendirilah yang mengkhawatirkan hal tersebut, sehingga beliau  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan ummatnya untuk  menguburkannya di tempat beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam wafat.  Sedangkan berdasarkan riwayat kedua, maka kemungkinan yang  mengkhawatirkan hal itu adalah para sahabat. Artinya, mereka khawatir  hal itu terjadi pada sebagian umat sehingga mereka pun tidak menampakkan  kuburan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , karena dikhawatirkan umat  Islam berlebih-lebihan dan terlalu mengagung-agungkan kuburan beliau  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam jika ditampakkan.</p>
<p>Imam al Qurthubi berkata,”Oleh karena itulah, kaum muslimin berusaha  semampu mungkin menutup jalan yang mengarah kepada pemujaan kuburan Nabi  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan cara meninggikan dinding tanahnya  dan menutup rapat pintu-pintu masuk ke arahnya dengan menjadikan  dindingnya mengitari kuburan beliau. Mereka pun takut apabila letak  kuburan beliau n dijadikan kiblat bagi orang-orang yang melakukan shalat  sehingga seakan shalat yang menghadap ke arahnya tersebut merupakan  suatu wujud beribadah. Karenanya, mereka kemudian membangun dua dinding  dari dua sudut kuburan bagian utara, dan mengalihkan keduanya hingga  bertemu pada sudut yang membentuk segitiga dari arah utara sehingga  tidak memungkinkan siapa pun untuk menghadap ke arah kuburan beliau.”</p>
<p>3. Diriwayatkan oleh Muslim dari Jundub bin Abdullah Radhiyallahu &#8216;anhu,  dia berkata: “Aku mendengar bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  pernah bersabda lima hari sebelum beliau wafat, ‘Sungguh aku menyatakan  kesetiaanku kepada Allah dengan menolak, bahwa aku mempunyai seorang  khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah  menjadikan aku sebagai khalil. Seandainya aku menjadikan seorang khalil  dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil.  Ketahuilah bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan  kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, maka janganlah kamu  sekalian menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar  melarang kamu melakukan perbuatan itu.’”</p>
<p>Al Khalili berkata,”Pengingkaran Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  terhadap perbuatan mereka tersebut dapat diartikan dengan dua makna.  Pertama, mereka bersujud terhadap kuburan para nabi untuk mengagungkan  utusan Allah tersebut. Kedua, mereka memang menganggap boleh melakukan  shalat di kuburan para nabi dan menghadap ke arah ketika melakukan  shalat, karena mereka memandang hal itu sebagai bentuk ibadah kepada  Allah dan cerminan sikap pengagungan yang sangat kepada para nabi  tersebut.</p>
<p>Makna pertama merupakan syirik jaliy (bentuk syirik yang jelas).  Sedangkan makna kedua merupakan syirik khafiy (bentuk syirik yang  tersembunyi). Oleh karena itu, mereka layak untuk dilaknat.”</p>
<p>Syaikh Shalih Alu asy Syaikh berkata,”Keterkaitan hadits ini dengan  permasalahan sikap keras Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, adalah  beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengharamkan menjadikan kuburan  para nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid (tempat ibadah),  meskipun mungkin saja orang yang melakukannya beribadah hanya kepada  Allah.</p>
<p>Hal itu, karena perbuatan tersebut termasuk di antara  sarana-sarana yang mengantarkan kepada syirik besar. Telah ditetapkan di  dalam kaidah-kaidah syariat dan telah disepakati oleh para muhaqqiq,  bahwa menutup pintu (celah) yang mengantarkan kepada kesyirikan dan  kepada perbuatan haram adalah wajib; karena syariat datang untuk menutup  pokok-pokok perbuatan-perbuatan haram dan menutup celah-celah menuju  kepadanya. Sehingga wajib menutup setiap pintu dari pintu-pintu  kesyirikan kepada Allah. Di antara pintu-pintu itu ialah, menjadikan  kuburan para nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid. Karena itu,  tidak sah shalat yang dilakukan di dalam masjid yang dibangun di atas  kuburan karena hal itu menafikan larangan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam.</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah melarang, namun orang-orang itu  melakukannya, padahal larangan beliau tertuju kepada tempat shalat itu  dilakukan sehingga shalatnya pun batal. Jadi, orang yang shalat di dalam  masjid yang dibangun di atas kuburan, maka shalatnya batal, tidak sah  berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ‘ketahuilah,  janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid’, maksudnya, dengan  membangun masjid di atasnya dan shalat di sekitarnya, ‘karena sungguh  aku larang kalian darinya’.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Rasulullah n , (pada)  menjelang akhir hayatnya (sebagaimana dinyatakan dalam hadits Jundub)  telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.  Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya –sebagaimana  dalam hadits ‘Aisyah– beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan  itu. Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan  kuburan sebagai tempat ibadah walaupun tidak membangunnya. Inilah makna  kata-kata Aisyah ‘dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah’,  karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di  sekitar kubur beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Padahal setiap  tempat yang digunakan untuk melakukan shalat di dalamnya, itu berarti  sudah dijadikan sebagai masjid; bahkan setiap tempat yang dipergunakan  untuk shalat disebut masjid sebagai yang telah disabdakan oleh  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :</p>
<blockquote><p>“Telah dijadikan bumi ini  untukku sebagai masjid dan sebagai sarana bersuci.”.</p></blockquote>
<p><strong>Kesimpulannya </strong>: Shalat di kuburan tidak boleh, baik itu shalat menghadap  ke arahnya, atau shalat di dekatnya karena mengharap berkah tempat  tersebut, atau tidak mengharap berkahnya, tetapi hanya shalat nafilah  (selain shalat jenazah). Semua itu tidak boleh. Baik di atas kuburan itu  ada bangunan, seperti masjid, atau tidak bangunan di atasnya, maka  shalat di atasnya tetap tidak boleh.</p>
<p>Di dalam Shahih al Bukhari, terdapat hadits bahwa Nabi Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Jadikanlah di antara shalat kalian itu  dilakukan di rumah-rumah kalian, dan jangan di kuburan.” Juga disebutkan  di dalam Shahih al Bukhari perkataan beliau kepada Umar Radhiyallahu  &#8216;anhu ketika melihat sekelompok orang shalat di dekat sebuah kubur  ‘kuburan, kuburan’, maksud beliau, jauhilah kuburan, jauhilah kuburan.  Ini menunjukkan, shalat di kuburan tidak diperbolehkan, karena merupakan  pengantar kepada kesyirikan. Lebih parah lagi jika di kuburan tersebut  dibangun bangunan, lalu menjadikan bangunan-bangunan sekitar kuburan itu  sebagai masjid untuk shalat, berdoa, membaca al Qur`an, dan semisalnya.</p>
<p><strong>Maraji</strong>:</p>
<ol>
<li> Fath al Majid Syarh Kitab at Tauhid.</li>
<li>At Tamhid li Syarhi Kitab at Tauhid, karya Syaikh Shalih Alu Syaikh.</li>
<li>Al Qaul al Mufid, Jilid I, karya Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin.</li>
</ol>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/2005M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi  Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]</p>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam dari <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2707/slash/0" target="_blank">almanhaj.or.id</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/04/larangan-beribadah-di-kuburan" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/04/larangan-beribadah-di-kuburan" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/05/04/larangan-beribadah-di-kuburan/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin Ibadah</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/04/07/kafir-quraisy-juga-mengenal-allah-dan-rajin-ibadah</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/04/07/kafir-quraisy-juga-mengenal-allah-dan-rajin-ibadah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 05:50:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[
Kaum muslimin, semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam  yang haq. Sesungguhnya salah satu penyebab utama kemunduran dan  kelemahan umat Islam pada masa sekarang ini adalah karena mereka tidak  memahami hakikat kejahiliyahan yang menimpa bangsa Arab di masa silam.  Mereka menyangka bahwasanya kaum kafir Quraisy jahiliyah adalah  orang-orang yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" dir="ltr"><img class="aligncenter" src="http://sunevening.files.wordpress.com/2009/10/sujud-21.jpg" alt="" width="239" height="167" /></p>
<p dir="ltr">Kaum muslimin, semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam  yang haq. Sesungguhnya salah satu penyebab utama kemunduran dan  kelemahan umat Islam pada masa sekarang ini adalah karena mereka tidak  memahami hakikat kejahiliyahan yang menimpa bangsa Arab di masa silam.  Mereka menyangka bahwasanya kaum kafir Quraisy jahiliyah adalah  orang-orang yang tidak beribadah kepada Allah sama sekali. Atau lebih  parah lagi mereka mengira bahwasanya kaum kafir Quraisy adalah  orang-orang yang tidak beriman tentang adanya Allah [?!] Duhai, tidakkah  mereka memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lembaran sejarah yang  tercatat rapi dalam kitab-kitab hadits ? <span id="more-458"></span></p>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff;"><strong>Kaum </strong><strong>K</strong><strong>afir  Quraisy </strong><strong>Betul-Betul M</strong><strong>engenal Allah</strong></span></p>
<p dir="ltr">Janganlah terkejut akan hal ini, cobalah simak firman Allah  <em>ta’ala</em>,</p>
<p dir="ltr"><strong>Dalil pertama</strong>, Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<blockquote>
<p dir="ltr"><em>“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu  dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran  dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang  mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang  mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka  katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”</em> (QS. Yunus  [10]: 31)</p>
</blockquote>
<p><strong>Dalil kedua</strong>, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<blockquote>
<p dir="ltr"><em>“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:  “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”,  maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?”</em> (QS. az-Zukhruf : 87)</p>
</blockquote>
<p><strong>Dalil ketiga</strong>, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<blockquote>
<p dir="ltr"><em>“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka:  “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air  itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”,  Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak  memahami(nya).”</em> (QS. al-’Ankabut: 63)</p>
</blockquote>
<p><strong>Dalil keempat</strong>, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<blockquote>
<p dir="ltr"><em>“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang  dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan  kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ?  Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu  mengingati(Nya).”</em> (QS. an-Naml: 62)</p>
</blockquote>
<p>Perhatikanlah! Dalam ayat-ayat di atas terlihat bahwasanya  orang-orang musyrik itu mengenal Allah, mereka mengakui sifat-sifat  rububiyyah-Nya yaitu Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang  menghidupkan dan mematikan, serta penguasa alam semesta. Namun,  pengakuan ini tidak mencukupi mereka untuk dikatakan muslim dan selamat.  Kenapa? Karena mereka mengakui dan beriman pada sifat-sifat rububiyah  Allah saja, namun mereka menyekutukan Allah dalam masalah ibadah. Oleh  karena itu, Allah katakan terhadap mereka,</p>
<blockquote>
<p dir="ltr"><em>“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada  Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan  sembahan-sembahan lain).”</em> (QS. Yusuf : 106)</p>
</blockquote>
<p>Ibnu Abbas mengatakan, “Di antara keimanan orang-orang musyrik: Jika  dikatakan kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan  gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Sedangkan mereka dalam keadaan  berbuat syirik kepada-Nya.”</p>
<p dir="ltr">‘Ikrimah mengatakan,”Jika kamu menanyakan kepada  orang-orang musyrik: siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan  menjawab: Allah. Demikianlah keimanan mereka kepada Allah, namun mereka  menyembah selain-Nya juga.” (Lihat <em>Al-Mukhtashor Al-Mufid</em>,  10-11)</p>
<p dir="ltr">Syaikh Shalih Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan  bahwa kaum musyrikin pada masa itu mengakui Allah <em>subhanahuwata’ala</em> adalah pencipta, pemberi rezki serta pengatur urusan hamba-hamba-Nya.  Mereka meyakini di tangan Allah lah terletak kekuasaan segala urusan,  dan tidak ada seorangpun diantara kaum musyrikin itu yang mengingkari  hal ini (lihat <em>Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat</em>) Dan janganlah anda  terkejut apabila ternyata mereka pun termasuk ahli ibadah yang  mempersembahkan berbagai bentuk ibadah kepada Allah <em>ta’ala</em>.</p>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff;"><strong>Kafir Quraisy </strong><strong>R</strong><strong>ajin </strong><strong>B</strong><strong>eribadah</strong></span></p>
<p dir="ltr">Anda tidak perlu merasa heran, karena inilah realita.  Syaikh Muhammad At Tamimi <em>rahimahullah</em> menceritakan bahwasanya  kaum musyrikin yang dihadapi oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang-orang yang rajin beribadah. Mereka juga menunaikan ibadah  haji, bersedekah dan bahkan banyak berdzikir kepada Allah. Di antara  dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik juga berhaji dan  melakukan thowaf adalah dalil berikut.</p>
<p dir="ltr">Dan telah menceritakan kepadaku Abbas bin Abdul ‘Azhim Al  Anbari telah menceritakan kepada kami An Nadlr bin Muhammad Al Yamami  telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar telah menceritakan  kepada kami Abu Zumail dari Ibnu Abbas ia berkata; Dulu orang-orang  musyrik mengatakan; “LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA (Aku memenuhi  panggilanMu wahai Dzat yang tiada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<blockquote>
<p dir="ltr">“Celakalah kalian, cukuplah ucapan itu dan jangan  diteruskan.” Tapi mereka meneruskan ucapan mereka; ILLAA SYARIIKAN HUWA  LAKA TAMLIKUHU WAMAA MALAKA (kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau  kuasai dan ia tidak menguasai).” Mereka mengatakan ini sedang mereka  berthawaf di Baitullah. (HR. Muslim no. 1185)</p>
</blockquote>
<p dir="ltr">Mengomentari pernyataan Syaikh Muhammad At Tamimi di atas,  Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwa kaum musyrikin Quraisy yang  didakwahi oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah kaum  yang beribadah kepada Allah, akan tetapi <strong>ibadah tersebut tidak  bermanfaat bagi mereka karena ibadah yang mereka lakukan itu tercampuri  dengan syirik akbar</strong>. Sama saja apakah sesuatu yang diibadahi  disamping Allah itu berupa patung, orang shalih, Nabi, atau bahkan  malaikat. Dan sama saja apakah tujuan pelakunya adalah demi mengangkat  sosok-sosok tersebut sebagai sekutu Allah atau bukan, karena hakikat  perbuatan mereka adalah syirik. Demikian pula apabila niatnya hanya  sekedar menjadikan sosok-sosok itu sebagai perantara ibadah dan penambah  kedekatan diri kepada Allah. Maka hal itu pun dihukumi syirik (lihat <em>Syarh  Kitab Kasyfu Syubuhaat</em>, Syaikh Shalih Al-Fauzan)</p>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff;"><strong>Dua </strong><strong>P</strong><strong>elajaran </strong><strong>B</strong><strong>erharga</strong></span></p>
<p dir="ltr">Dari sepenggal kisah di atas maka ada dua buah pelajaran  berharga yang bisa dipetik.</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>;  pengakuan seseorang bahwa hanya Allah lah pencipta, pemberi rezki dan  pengatur segala urusan tidaklah cukup untuk membuat dirinya termasuk  dalam golongan pemeluk agama Islam<strong>. </strong>Sehingga<strong> </strong>sekedar  mengakui bahwasanya Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan  pengatur belum bisa menjamin terjaganya darah dan hartanya. Bahkan  sekedar meyakini hal itu belum bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan  Allah.</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>;  apabila peribadatan kepada Allah disusupi dengan kesyirikan maka hal itu  akan menghancurkan ibadah tersebut. Oleh sebab itu ibadah tidak  dianggap sah apabila tidak dilandasi dengan tauhid/ikhlas (lihat <em>Syarh  Kitab Kasyfu Syubuhaat</em>, Syaikh Shalih Al-Fauzan)</p>
<p dir="ltr">Dengan demikian sungguh keliru anggapan sebagian orang yang  mengatakan bahwasanya tauhid itu cukup dengan mengakui Allah sebagai  satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta. Dan dengan modal  anggapan yang terlanjur salah ini maka merekapun bersusah payah untuk  mengajak manusia mengenali bukti-bukti alam tentang keberadaan dan  keesaan wujud-Nya dan justru mengabaikan hakikat tauhid yang sebenarnya.  Atau yang mengatakan bahwa selama orang itu masih mengucapkan syahadat  maka tidak ada sesuatupun yang bisa membatalkan keislamannya. Atau yang  membenarkan berbagai macam praktek kesyirikan dengan dalih hal itu dia  lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Atau yang mengatakan  bahwa para wali yang sudah meninggal itu sekedar perantara untuk bisa  mendekatkan diri mereka yang penuh dosa kepada Allah yang Maha Suci.  Lihatlah kebanyakan praktek kesyirikan yang merebak di tengah-tengah  masyarakat Islam sekarang ini, maka niscaya alasan-alasan semacam ini  -yang rapuh serapuh sarang laba-laba- yang mereka lontarkan demi  melapangkan jalan mereka untuk melestarikan tradisi dan ritual-ritual  syirik.</p>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff;"><strong>‘Kita ‘</strong><strong>K</strong><strong>an </strong><strong>T</strong><strong>idak </strong><strong>S</strong><strong>ebodoh </strong><strong>K</strong><strong>afir Quraisy’</strong></span></p>
<p dir="ltr">Barangkali masih ada orang yang bersikeras mengatakan,<em>“Jangan  samakan kami<strong> </strong>dengan kaum kafir Qurasiy. Sebab kami ini  beragama Islam, kami cinta Islam, kami cinta Nabi, dan kami senantiasa  meyakini Allah lah penguasa jagad raya ini, tidak sebagaimana mereka  yang bodoh dan dungu itu!”</em> Allahu akbar, hendaknya kita tidak  terburu-buru menilai orang lain bodoh dan dungu sementara kita belum  memahami keadaan mereka. Saudaraku, cermatilah firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<blockquote>
<p dir="ltr"><em>“Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh  isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab,  ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’  Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik  Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’  Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah  Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah  yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari  azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab,  ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah  kalian ditipu?.’”</em> (QS. Al-Mu’minuun: 84-89)</p>
</blockquote>
<p dir="ltr">Nah, ayat-ayat di atas demikian gamblang menceritakan  kepada kita tentang realita yang terjadi pada kaum musyrikin Quraisy  dahulu. Meyakini tauhid rububiyah tanpa disertai dengan tauhid uluhiyah  tidak ada artinya. Maka sungguh mengherankan apabila ternyata masih ada  orang-orang yang mengaku Islam, rajin shalat, rajin puasa, rajin naik  haji akan tetapi <span style="text-decoration: underline;">mereka justru  berdoa kepada Husain, Badawi, Abdul Qadir Al-Jailani</span>. Maka  sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sama dengan perilaku kaum  musyrikin Quraisy yang berdoa kepada Laata, ‘Uzza dan Manat. Mereka pun  sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka minta adalah sekedar pemberi  syafaat dan perantara menuju Allah. Dan mereka juga sama-sama meyakini  bahwa sosok yang mereka jadikan perantara itu bukanlah pencipta,  penguasa jagad raya dan pemeliharanya. Sungguh persis kesyirikan hari  ini dengan masa silam. Sebagian orang mungkin berkomentar, <em>“Akan  tetapi mereka ini ‘kan kaum muslimin”</em> Syaikh Shalih Al-Fauzan  menjawab,<em>“Maka kalau dengan perilaku seperti itu mereka masih layak  disebut muslim, lantas mengapa orang-orang kafir Quraisy tidak kita  sebut sebagai muslim juga ?! Orang yang berpendapat semacam itu tidak  memiliki pemahaman ilmu tauhid dan tidak punya ilmu sedikitpun, karena  sesungguhnya dia</em> <em>sendiri tidak mengerti hakikat tauhid”</em> (lihat <em>Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat</em>, Syaikh Shalih Al-Fauzan)</p>
<p dir="ltr">Penulis: <a href="http://abumushlih.com/">Abu Mushlih Ari  Wahyudi</a> dan <a href="http://rumaysho.com/">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p dir="ltr">***</p>
<p dir="ltr">Artikel Islam dari <a href="http://www.muslim.or.id/">muslim.or.id</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/04/07/kafir-quraisy-juga-mengenal-allah-dan-rajin-ibadah" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/04/07/kafir-quraisy-juga-mengenal-allah-dan-rajin-ibadah" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/04/07/kafir-quraisy-juga-mengenal-allah-dan-rajin-ibadah/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!”</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/17/%e2%80%9cberikan-kami-al-qur%e2%80%99an-bukan-cokelat%e2%80%9d</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/17/%e2%80%9cberikan-kami-al-qur%e2%80%99an-bukan-cokelat%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 16:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[
“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!” kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang   sedang mengurus pengungsi.
Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!
(Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani   anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://www.royalthaitour.com/images/halal_tours/al-quran.jpg" alt="" width="160" height="119" /></p>
<p><em>“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!”</em> kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang   sedang mengurus pengungsi.</p>
<p><strong>Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat!</strong></p>
<p>(<em>Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani   anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat   berkesan. Menohok konsep diri.</em>)</p>
<p><span id="more-455"></span>Anak-anak hebat tidak selamanya lahir dari fasilitas yang serba   lengkap, bahkan sebagian dari mereka disembulkan dari kehidupan sulit   yang berderak-derak. Mereka tumbuh dan berkembang dari kekurangan.</p>
<p>Pada sebuah musim dingin yang menggigit, di sebuah pedalaman, di   belahan timur Eropa, kisah ini bermula. Kejadian menakjubkan, setidaknya   bagi saya.</p>
<p>Salju bagai permadani putih dingin menyelimuti pedalaman yang telah   kusut masai dirobek perang yang tak kunjung usai. Dentuman bom dan   letupan senjata meraung-raung dimana-mana. Sesekali, terdengar ibu dan   anak menjerit dan kemudian hilang.</p>
<p>Di tenda kami, puluhan anak duduk memojok dalam keadaan teramat   takut.  Sepi. Takada percakapan. Takada jeritan. Hanya desah pasrah   merayap dari mulut mereka terutama ketika terdengar letupan atau   ledakan.</p>
<p>Di luar, selimut putih beku telah menutup hampir semua jengkal tanah.   Satu-dua pohon perdu masih keras kepala mendongak, menyeruak. Beberapa   di antara kami terlihat masih berlari ke sana-kemari. Memangku anak  atau  membopong anak-anak yang terjebak perang dan musim dingin yang   menggigit tulang.</p>
<p>Tiba-tiba dari kejauhan, saya melihat dua titik hitam kecil. Lambat   laun, terus bergerak menuju tenda kami. Teman di samping yang   berkebangsaan Mesir mengambil teropong.</p>
<p>“Allahu Akbar!” teriaknya meloncat sambil melemparkan teropong   sekenanya.</p>
<p>Saya juga meloncat dan ikut berlari menyusul dua titik hitam kecil   itu. Seperti dua rusa yang dikejar Singa Kalahari, kami berlari.</p>
<p>Dari jarak beberapa meter, dapat kami pastikan bahwa dua titik hitam   kecil itu adalah sepasang anak. Anak perempuan lebih besar dan tinggi   dari anak lelaki. Anak perempuan yang manis khas Eropa Timur itu   terlihat amat lelah. Matanya redup. Sementara, anak lelaki berusaha   terus tegar.</p>
<blockquote><p>“Cokelat …,” sodor teman saya setelah mereka sampai di   tenda penampungan kami.</p></blockquote>
<p>Anak yang lebih besar dengan mata tajamnya menatap teman saya yang   menyodorkan sebungkus cokelat tadi.</p>
<p>Teman saya merasa mendapat perhatian maka dia semakin semangat   menyodorkan cokelat. Diangsurnya tiga bungkus cokelat ke kepalan tangan   anak yang kecil (yang ternyata adalah adiknya).</p>
<p>Sang Kakak dengan cepat dan mengejutkan kami mengibaskan tangannya   menolak dua bungkus cokelat yang diberikan. Teman saya yang   berkebangsaan Mesir itu terkesiap.</p>
<blockquote><p>“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!” katanya hampir   setengah berteriak.</p></blockquote>
<p>Kalimatnya yang singkat dan tegas seperti suara tiang pancang   dihantam berkali-kali.</p>
<p>Belum seluruhnya nyawa kami berkumpul, sang Kakak melanjutkan   ucapannya,</p>
<blockquote><p>“Kami membutuhkan bantuan abadi dari Allah! Kami ingin   membaca Al Qur’an. Tapi, ndak ada satu pun Al Qur’an.”</p></blockquote>
<p>Saya tercekat apalagi teman saya yang dari Mesir. Kakinya seperti   terbenam begitu dalam dan berat di rumput salju. Kami bergeming.</p>
<p>Dua titik hitam yang amat luar biasa meneruskan perjalanannya menuju   tenda pengungsi. Mereka berusaha tegap berjalan.</p>
<blockquote><p>“Al Qur’an! Al Qur’an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!”   kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang   sedang mengurus pengungsi.</p></blockquote>
<p>Saya dan teman Mesir yang juga adalah kandidat doktor ilmu tafsir Al   Qur’an Universitas Al Azhar Kairo itu kaku.</p>
<p>[<em>Takakan pernah terlupakan kejadian di sekitar Mostar ini. Meski   musim dingin dan dalam dentuman senjata pembunuh yang tak terkendali,   angsa-angsa terus berenang di sebuah danau berteratai yang luar biasa   indahnya. Beberapa anak menangis dipangkuan. Darah menetes. Beberapa   anak-anak bertanya, dimana ayah dan ibu mereka. (Saya ingin melupakan   tahunnya.</em>)]</p>
<p>Disalin dari:<br />
“<strong>Aku Mau Ayah! Mungkinkah tanpa sengaja anak Anda telah  terabaikan?  45 Kisah Nyata Anak-Anak Yang Terabaikan</strong>“,  bab “<strong>Dua  Pasang Mata  di Tengah Salju: Al Qur’an Bukan Cokelat</strong>!” (hal  83-86)<br />
Penulis: Irwan Rinaldi.<br />
Penerbit: Progressio Publishing.<br />
Cetakan Pertama, Juni 2009</p>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam dari <a href="http://jilbab.or.id/archives/945-berikan-kami-al-quran-bukan-cokelat/" target="_blank">jilbab.or.id</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/17/%e2%80%9cberikan-kami-al-qur%e2%80%99an-bukan-cokelat%e2%80%9d" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/17/%e2%80%9cberikan-kami-al-qur%e2%80%99an-bukan-cokelat%e2%80%9d" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/17/%e2%80%9cberikan-kami-al-qur%e2%80%99an-bukan-cokelat%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mr.Jacques Yves Costeau: Masuk Islam Setelah Temukan Mukjizat &#8216;Sungai di dalam Laut&#8217;</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/14/mrjacques-yves-costeau-masuk-islam-setelah-temukan-mukjizat-sungai-di-dalam-laut</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/14/mrjacques-yves-costeau-masuk-islam-setelah-temukan-mukjizat-sungai-di-dalam-laut#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 17:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Muallaf]]></category>

		<category><![CDATA[Mukjizat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[
Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan  Sungai dalam Laut:
“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada  mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini  dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa  al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu  menyaksikan segala sesuatu” (QS Fushshilat 53). 
“Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="img-content"><img src="http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos/sungai-bawah-laut.jpg&amp;h=235&amp;w=355&amp;zc=1" alt="" width="249" height="164" /></div>
<p style="text-align: left;">Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan  Sungai dalam Laut:</p>
<p style="text-align: left;">“<em>Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada  mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini  dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa  al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu  menyaksikan segala sesuatu</em>” (QS Fushshilat 53). <span id="more-450"></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;">“Dan Dialah yang membiarkan <span style="color: #ff6600;">dua laut mengalir (berdampingan) ; yang   ini tawar lagi segar</span> dan <span style="color: #ff6600;">yang  lain masin lagi pahit</span>; dan Dia jadikan  antara keduanya dinding  dan batas yang menghalangi”</span> <span style="color: #ff6600;">(Q.S Al Furqan 53).</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><em></em></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #800000;"><em>Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV  `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli  oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang  berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar  samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang  keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PADA </strong>suatu hari ketika  sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa  kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak  bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya,  seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena ganjil itu memeningkan Mr.  Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar  dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan  itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus  berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan  jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan  seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil  itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua  lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan  Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan,  bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan  bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.”  Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir,  ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan  sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar  dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan  ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju  minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan  marjan.” Padahal di muara sungai tidak<br />
ditemukan mutiara.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">&#8230;Terpesonalah Mr. Costeau mendengar  ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban  pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam&#8230;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Terpesonalah Mr. Costeau mendengar  ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban  pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini  mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman  saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang  jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita  tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad  20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab  suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar.  Dengan seketika dia pun memeluk Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan Dialah yang membiarkan dua laut  mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin  lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang  menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)</p>
<p style="text-align: justify;">Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat  hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha  Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya  hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.”  Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini  bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan  membaca Al Quran.”</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">&#8230;Mr. Costeau mendapat hidayah melalui  fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung&#8230;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Jika anda seorang penyelam, maka anda  harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika  anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun  jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi  air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap  dengan pohon dan daun daunan.</p>
<div style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related"><img class="aligncenter size-full wp-image-867" title="1" src="http://ivandrio.files.wordpress.com/2010/03/11.jpg?w=700&amp;h=465" alt="" width="354" height="234" /> </a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related"><img class="aligncenter size-full wp-image-868" title="2" src="http://ivandrio.files.wordpress.com/2010/03/2.jpg?w=700&amp;h=466" alt="" width="350" height="232" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related"><img class="aligncenter size-full wp-image-869" title="4" src="http://ivandrio.files.wordpress.com/2010/03/4.jpg?w=700&amp;h=466" alt="" width="350" height="232" /></a></p>
</div>
<div class="photo photo_none" style="text-align: center;">
<div class="photo_img"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs512.snc3/26908_1312872896266_1063954137_30920409_7579604_n.jpg" alt="" width="351" height="233" /></a></div>
</div>
<div class="photo photo_none" style="text-align: center;">
<div class="photo_img"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs492.snc3/26908_1312873336277_1063954137_30920410_6704842_n.jpg" alt="" width="349" height="232" /></a></div>
</div>
<div class="photo photo_none" style="text-align: center;">
<div class="photo_img"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs492.snc3/26908_1312873416279_1063954137_30920411_98803_n.jpg" alt="" width="350" height="262" /></a></div>
</div>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related"><img class="aligncenter size-full wp-image-871" title="4" src="http://ivandrio.files.wordpress.com/2010/03/42.jpg?w=700&amp;h=466" alt="" width="354" height="235" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related"><img class="aligncenter size-full wp-image-872" title="5" src="http://ivandrio.files.wordpress.com/2010/03/5.jpg?w=524&amp;h=720" alt="" width="350" height="479" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Setengah pengkaji mengatakan, itu  bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak  seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah  SWT.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Sumber  Referensi : </strong></span></p>
<ol>
<li> Buku elektronik (ebook): <em>Bukti Kebenaran Quran</em>, oleh  Abdullah M. Al-Rehaili, Tajidu Press, Yogyakarta, 2003. Judul Asli: <em>This  is The Truth, Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Quran  &amp; Authentic Hadeeth </em>(Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs  Commission on Scientific Sign of Qur’an and Sunnah at Muslim World  League Makkah al­Mukarramah and Alharamain Islamic Poundation, Third  Edition, Riyadh, 1999)</li>
<li>http://www.cenoteangelita.com/cenote_info.htm</li>
<li>sajadah sukses.</li>
<li><a href="http://www.youtube.com/watch?v=99YxM9ouTLA" target="_blank">Youtube:</a> http://www.youtube.com/watch?v=RIyvz8th7dU&amp;feature=related.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam dari <a href="http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2010/03/12/3797/mr.jacques-yves-costeaumasuk-islam-setelah-temukan-mukjizat-%27sungai-di-dalam-laut/" target="_blank">www.voa-islam.com</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/14/mrjacques-yves-costeau-masuk-islam-setelah-temukan-mukjizat-sungai-di-dalam-laut" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/14/mrjacques-yves-costeau-masuk-islam-setelah-temukan-mukjizat-sungai-di-dalam-laut" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/14/mrjacques-yves-costeau-masuk-islam-setelah-temukan-mukjizat-sungai-di-dalam-laut/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Cinta Rasul</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/02/pengakuan-cinta-rasul</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/02/pengakuan-cinta-rasul#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 06:58:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aktual]]></category>

		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari
Seseorang tidaklah menjadi orang yang beriman sempurna, sampai dia mencintai Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih daripada seluruh manusia. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:
&#8220;Tidaklah beriman –dengan keimanan yang sempurna- salah seorang dari kamu, sampai aku menjadi yang paling dia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia&#8221; [HR [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari</p>
<p>Seseorang tidaklah menjadi orang yang beriman sempurna, sampai dia mencintai Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih daripada seluruh manusia. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Tidaklah beriman –dengan keimanan yang sempurna- salah seorang dari kamu, sampai aku menjadi yang paling dia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia&#8221; [HR Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44; dari Anas bin Malik].</p></blockquote>
<p><span id="more-443"></span>Jika seseorang mencintai Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih daripada seluruh manusia, maka dia akan mengikuti petunjuk beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dia akan lebih mengutamakan beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam daripada petunjuk siapa saja dari kalangan manusia.</p>
<p>Al Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata:</p>
<blockquote><p>“Ketahuilah, orang yang mencintai sesuatu, ia akan mengutamakannya dan mengutamakan kecocokan dengannya. Jika tidak, maka ia tidak benar di dalam kecintaannya, dan dia (hanya) sebagai orang yang mengaku-ngaku saja. Maka orang yang benar di dalam kecintaannya kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah, orang yang nampak darinya tanda-tanda tersebut. Yang pertama dari tanda-tanda itu adalah, meneladani Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya (ajarannya), mengikuti perkataan dan perbuatannya, dan beradab dengan adab-adabnya, pada waktu kesusahan dan kemudahan, pada waktu senang dan benci”.[1]</p></blockquote>
<p>Imam Ibnu Rajab al Hambali rahimahullah berkata:</p>
<blockquote><p>“Kecintaan yang benar mengharuskannya mengikuti dan mencocoki di dalam kecintaan apa-apa yang dicintai dan kebencian di dalam apa-apa yang dibenci&#8230; Maka barangsiapa mencintai Allah dan RasulNya dengan kecintaan yang benar dari hatinya, hal itu menyebabkan dia mencintai -dengan hatinya- apa yang dicintai oleh Allah dan RasulNya, dan dia membenci apa yang dibenci oleh Allah dan RasulNya, ridha dengan apa yang diridhai oleh Allah dan RasulNya, murka terhadap yang dimurkai oleh Allah dan RasulNya, dan dia menunjukkan kecintaan dan kebenciannya ini dengan anggota badannya”.[2]</p></blockquote>
<p>Begitulah seharusnya kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akan tetapi, pada zaman ini dan sebelumnya, banyak pengakuan cinta sebagian orang kepada beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yang dalam mewujudkannya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai oleh beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Di antara perbuatan-perbuatan tersebut ialah sebagaimana berikut ini.</p>
<p><strong>1. Peringatan Maulid Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam.</strong></p>
<p>Syaikh Shalih al Fauzan –hafizhahullah- menyatakan, di antara bid’ah yang mungkar yang diada-adakan oleh sebagian orang adalah perayaan maulid Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pada bulan Rabi’ul Awal. Di antara mereka ada yang sekedar berkumpul, mendengarkan bacaan kisah maulid, atau ceramah, atau qasidah. Di antara mereka ada yang membuat makanan tertentu dan manisan, lalu membagikannya kepada orang-orang yang hadir. Di antara mereka ada yang mengadakan di masjid-masjid. Di antara mereka ada yang mengadakan di rumah-rumah.</p>
<p>Di antara mereka ada yang tidak mencukupkan dengan apa yang telah disebutkan, lalu pertemuan itu dibuat mencakup hal-hal yang diharamkan dan kemungkaran-kemungkaran, berupa campur-aduk antara laki-laki dengan perempaun, tarian, nyanyian, atau perbuatan-perbuatan syirik, seperti minta dihilangkan kesusahan kepada Rasul Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, memanggil beliau, meminta pertolongan kepada beliau terhadap musuh, dan lainnya.</p>
<p>Dan (peringatan maulid) itu, dengan berbagai ragamnya dan perbedaan bentuk-bentuknya, serta perbedaan niat orang-orang yang mengadakannya, tidak ada keraguan dan kebimbangan, bahwa itu merupakan perbuatan bid’ah yang diharamkan, perkara baru yang diada-adakan oleh (kelompok) Syi’ah (yang mengaku keturunan Fatimah Radhiyallahu &#8216;anhuma, (diada-adakan) setelah tiga generasi yang utama untuk merusak agama umat Islam.[3]</p>
<p>Kemudian Syaikh Shalih al Fauzan menyebutkan berbagai syubhat orang-orang yang mengadakan perayaan maulid Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Di antara syubhat-syubhat itu adalah, bahwa perayaan maulid Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menunjukkan kecintaan terhadap Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sedangkan menampakkan kecintaan kepada beliau Shallallahu &#8216;alaihi was allam disyari’atkan.</p>
<p>Maka Syaikh Shalih al Fauzan membantah syubhat itu dengan mengatakan:</p>
<p>Tidak ada keraguan bahwa mencintai Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merupakan kewajiban atas setiap muslim, lebih besar daripada mencintai dirinya sendiri, anak, bapak, dan manusia seluruhnya. Semoga shalawat-shalawat dan salam diberikan kepada beliau.</p>
<p>Tetapi bukan berarti kita (kemudian) mengadakan sesuatu perkara baru (bid’ah) yang tidak disyari’atkan untuk kita. Bahkan mencintai beliau mengharuskan mentaati dan mengikuti beliau. Karena hal itu merupakan perwujudan kecintaan yang paling besar. Sebagaimana dikatakan di dalam sya’ir:</p>
<blockquote><p>Seandainya kecintaanmu itu benar, pastilah engkau akan mentaatinya,<br />
Sesungguhnya orang yang mencintai itu mentaati orang yang dia cintai.</p></blockquote>
<p>Mencintai Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengharuskan menghidupkan sunnah (jalan, ajaran) beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, memegangnya kuat-kuat, dan menjauhi apa-apa yang menyelisihinya yang berupa perkataan dan perbuatan. Dan tidak ada keraguan, apa yang menyelisihi sunnah beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merupakan bid’ah yang tercela dan kemaksiatan yang nyata, di antaranya adalah perayaan peringatan maulid Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan bid’ah-bid’ah lainnya. Kebaikan niat tidak menjadikan bolehnya berbuat bid’ah di dalam agama. Karena sesungguhnya, agama itu dibangun di atas dua landasan, yaitu ikhlas (murni mencari ridha Allah) dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ). Allah Ta’ala berfirman:</p>
<blockquote><p>&#8220;(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah (yaitu ikhlas, Pen), sedang ia berbuat kebajikan (yakni mutaba’ah. Pen), maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati&#8221;. [al Baqarah : 112].</p></blockquote>
<p>Menyerahkan wajah kepada Allah adalah ikhlas kepada Allah, sedangkan ihsan (berbuat kebajikan) yakni mengikuti Rasul dan mencocoki sunnah.[4]</p>
<p><strong>2. Memuji Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam Secara Berlebihan.</strong></p>
<p>Salah satu bentuk kecintaan adalah memuji kepada orang yang dicintai. Oleh karena itulah banyak sya’ir-sya’ir yang memuji Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan memuji sifat-sifat beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Apabila pujian itu sesuai dengan hakikatnya, tidak berlebihan, maka tidak mengapa. Sebagaimana sebagian para penyair di kalangan sahabat memuji Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, seperti Hassaan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, Ka’b bin Malik, dan lainnya Radhiyallahu &#8216;anhum.</p>
<p>Namun sebagian orang memuji Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam secara berlebihan, bahkan ada yang sampai derajat kemusyrikan. Maka, hal ini termasuk sikap ghuluw (melewati batas) yang dilarang keras oleh agama, walaupun dengan alasan cinta Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya tentang hal ini dengan sabdanya:</p>
<blockquote><p>&#8220;Janganlah engkau memujiku secara berlebihan sebagaimana Nashara telah memujiku secara berlebihan terhadap (Isa) Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah “hamba Allah dan RasulNya”. [HR Bukhari, no. 3445, dari sahabat Umar bin al Khaththab].</p></blockquote>
<p>Di antara contoh pujian yang berlebihan kepada Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah, qasidah (kumpulan sya’ir) mimiyah (yang diakhiri dengan huruf mim) karya Ibnu Sa’id al Bushiri (meninggal tahun 695H) di kota Iskandariyah, Mesir. Qasidah ini sangat terkenal pada sebagian umat Islam. Qasidah ini berisi kisah maulid Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sehingga banyak dibaca sebagian umat Islam saat merayakan peringatan maulid Nabi. Qasidah ini dikenal dengan nama burdah (selimut), karena konon, pembuat qasidah ini meminta kesembuhan dari penyakit lumpuh separo yang dia derita, dengan perantaraan pembacaan qasidahnya, lalu dia bermimpi didatangi oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengusapnya sehingga penyakitnya sembuh. Kemudian beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberikan burdah kepadanya.</p>
<p>Perlu kita ketahui, bahwa mimpi tidak dapat dijadikan pedoman keyakinan dan hukum-hukum dalam masalah agama. Karena agama Islam telah sempurna, sehingga tidak membutuhkan tambahan dari mimpi-mimpi.</p>
<p>Penyimpangan nyata dari Qasidah Burdah Bushiri tersebut, antara lain adalah ucapannya pada bagian ke tiga dari qasidahnya:</p>
<blockquote><p>Wahai Rasul yang paling mulia, tidak ada bagiku orang yang aku berlindung kepadanya kecuali engkau, di saat terjadinya musibah yang merata</p></blockquote>
<p>Perkataan ini merupakan doa di saat kesusahan kepada Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sedangkan doa kepada selain Allah adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari agama Islam!</p>
<p><strong>3. Menciptakan Shalawat-Shalawat Bid’ah Dan Mengamalkannya.</strong></p>
<p>Sesungguhnya shalawat kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung. Kita dianjurkan memperbanyak bacaan shalawat, sehingga mengamalkannya merupakan sarana meraih kebaikan dan sekaligus menunjukkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali&#8221;. [HR Muslim, no. 408, dari Abu Hurairah].</p></blockquote>
<p>Tetapi sayang, betapa banyak penyimpangan dan bid’ah yang dilakukan oleh banyak orang seputar shalawat Nabi. Antara lain tersebarnya shalawat-shalawat yang tidak disyari’atkan. Yaitu shalawat yang datang dari hadits-hadits dha’if (lemah), sangat dha’if, maudhu’ (palsu), atau tidak ada asalnya. Demikian juga shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh ahli bid’ah), kemudian mereka tetapkan dengan nama shalawat ini atau itu.</p>
<p>Shalawat seperti ini sangat banyak jumlahnya, bahkan sampai ratusan. Sebagai contoh, berbagai shalawat yang ada di dalam kitab Dalailul Khairat wa Syawariqul Anwar fii Dzikrish Shalah ‘ala Nabiyil Mukhtar, karya al Jazuli (meninggal th. 854H). Di antara shalawat bid’ah ini adalah shalawat Basyisyiyah, shalawat Nariyah, shalawat Fatih, dan lain-lain. Termasuk musibah, karena sebagian shalawat bid’ah itu mengandung kesyirikan.[5]</p>
<p>Jika demikian, maka mengamalkan shalawat-shalawat bid’ah itu merupakan kesesatan, bukan wujud kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>4. Merayakan Atau Mengagungkan Bekas-Bekas Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam Yang Tidak Disyari’atkan Untuk Diagungkan.</strong></p>
<p>Sebagian orang beranggapan bahwa salah satu bentuk mencintai Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ialah dengan melestarikan, mengunjungi dan mengagungkan bekas-bekas atau jejak-jejak dari tempat-tempat yang dikaitkan dengan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Seperti tempat kelahiran beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tempat tahannuts (ibadah) beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di goa Hira’, tempat bersembunyi beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di goa Tsaur, tempat mendekamnya onta beliau di Quba, Madinah, sumur jatuhnya cincin beliau, dan semacamnya. Anggapan seperti ini merupakan anggapan yang salah, anggapan jahiliyah dahulu maupun sekarang.</p>
<p>Umar bin al Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu telah memerintahkan menebang pohon yang di bawahnya telah terjadi Bai’atur Ridhwan.</p>
<p>Demikian juga beliau Radhiyallahu &#8216;anhu telah melarang orang-orang mengagungkan tempat-tempat yang dianggap mulia karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah shalat di sana. Inilah riwayat yang menjelaskan hal tersebut :</p>
<p>Dari Ma’rur bin Suwaid, dia berkata: Aku bersama Umar di antara Makkah dan Madinah, kemudian beliau Radhiyallahu &#8216;anhu shalat fajar (Shubuh) dengan kami. Beliau Radhiyallahu &#8216;anhu membaca</p>
<p><em>A lam taro kayfa fa&#8217;ala rabbuka</em> (surat al Fiil) dan bersama <em>Li iilaa fii quraisy</em> (surat al Quraisy). Kemudian beliau melihat serombongan orang yang singgah dan shalat di dalam sebuah masjid. Maka beliau bertanya tentang mereka, maka orang-orang mengatakan: “(Itu adalah) sebuah masjid yang Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah shalat di dalamnya,” kemudian Umar mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa karena menjadikan jejak-jejak Nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah. Barangsiapa melewati suatu masjid, kemudian (waktu) shalat hadir, hendaklah dia shalat. Jika tidak, maka hendaklah dia terus&#8221;.[6]</p>
<p>Sikap Umar bin al Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu di atas sebagai wujud untuk menjaga aqidah umat. Jangan sampai umat terjerumus ke dalam kemusyrikan disebabkan ghuluw (melewati batas) terhadap jejak-jejak (bekas-bekas) orang-orang shalih.</p>
<p>Dari sini kita mengetahui, bahwa menunjukkan kecintaan kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan cara melestarikan peninggalannya dan mengagungkannya, adalah merupakan sarana menuju kebinasaan. Maka tidak sepantasnya dilakukan oleh orang yang benar-benar mencintai Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan cara mencintai beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ialah dengan mewujudkan ittiba’ (mengikuti) terhadap sunnah beliau secara lahir batin, sebagaimana telah kami sampaikan.</p>
<p>Semoga kita memahami dan mengenal cara mewujudkan cinta kepada Rasullullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12//Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]<br />
_______<br />
<strong>Footnote</strong></p>
<ol>
<li> Asy Syifa’, hlm. 571, dinukil dari Abhaats fil I’tiqad, hlm. 37, karya Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif.</li>
<li> Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 2/397.</li>
<li>Hukmul Ih-tifal bi Dzikril Maulid Nabawi, karya Syaikh Shalih al Fauzan, termuat di dalam kumpulan risalah Huququn Nabi Bainal Ijlal wal Ikh-lal, hlm. 151-152.</li>
<li>Ibid, hlm. 159-160.</li>
<li>Lihat Mu’jamul Bida’, hlm. 345-346, karya Syaikh Raid bin Shabri bin Abi &#8216;Ulfah; Fadh-lush Shalah ‘alan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, hlm. 20-24, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd al ‘Abbad; Minhaj al Firqah an Najiyah, hlm. 116-122, karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu; dan Sifat Shalawat &amp; Salam Kepada Nabi n , hlm. 72-73, karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir bin Abdat.</li>
<li>Riwayat Abdurrazaq (2/118-119), Abu Bakar bin Abi Syaibah (2/376-377), dengan sanad yang shahih. Dinukil dari ar Raddu ‘ala ar Rifa’i wal Buuthi, hlm. 52-53, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad, Penerbit Dar Ibnil Atsir; Cet. I, Th. 1421H/2000M.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam dari <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2669/slash/0" target="_blank">Almanhaj.or.id</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/02/pengakuan-cinta-rasul" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/02/pengakuan-cinta-rasul" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/03/02/pengakuan-cinta-rasul/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa di Balik Valentine’s Day?</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/ada-apa-di-balik-valentine%e2%80%99s-day</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/ada-apa-di-balik-valentine%e2%80%99s-day#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 06:35:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Disusun ulang oleh: Ummu Ziyad
Muroja’ah oleh: Ust Abu Mushlih Ari Wahyudi
Ukhti fillah…
Tanggal 14 Februari seakan-akan menjadi hari yang khusus bagi manusia secara umum, bahkan bagi seorang muslimah sekalipun. Dengan pengaruh dari berbagai media dan lingkungan, para gadis sibuk ikut-ikutan merayakan hari tersebut. Ada yang sibuk membuat coklat dan kue-kue untuk orang yang disayanginya, mengirimkan kartu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disusun ulang oleh: Ummu Ziyad<br />
Muroja’ah oleh: Ust Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>Ukhti fillah…</p>
<p>Tanggal 14 Februari seakan-akan menjadi hari yang khusus bagi manusia secara umum, bahkan bagi seorang muslimah sekalipun. Dengan pengaruh dari berbagai media dan lingkungan, para gadis sibuk ikut-ikutan merayakan hari tersebut. Ada yang sibuk membuat coklat dan kue-kue untuk orang yang disayanginya, mengirimkan kartu, atau sengaja mengkhususkan membuat pengakuan cinta untuk lelaki pujaan hatinya. <em>Na’udzubillah min dzalik.</em> Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan untuk dijauhkan dari perbuatan tersebut…</p>
<p><span id="more-440"></span>Setelah mengetahui fatwa-fatwa yang ada pada artikel sebelumnya, ada baiknya kita juga mengetahui asal usul adanya hari valentine. Dengan demikian, insya Allah kita akan lebih berhati-hati dan tidak segan-segan untuk meninggalkan hari raya tersebut. Apalagi jika kita benar-benar ingin menjadi wanita muslimah sejati, yang sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan sangat takut dengan hukuman-Nya dan berharap keridhoan-Nya. Artikel berikut ini banyak menukil dari majalah As Sunnah dengan disertai berbagai tambahan dari penulis.</p>
<p><strong>Definisi Valentine’s Day</strong></p>
<p>Terdapat beberapa definisi yang terdapat di majalah As Sunnah edisi 11 tahun I untuk menjelaskan tentang hari valentine ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>,</p>
<p><em>A day on which lovers traditionally exchange affectionate messages and gift. It is ovserved on February 14, the date on which Saint Valentine was matyred.</em> (<em>The Encyclopedia Americana</em>, volume XXVII, hal 860)</p>
<p>“Sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisi saling mengirimkan pesan-pesan cinta dan hadiah-hadiah. Hari itu diperingati pada tanggal 14 Februari, suatu hari di mana St. Valentine mengalami martir.”</p>
<p><strong>Kedua</strong>,</p>
<p><em>The date on the modern celebration, February 14, is believed to derive in the execution of a Christian martyr, St. Valentine, on February 14, 270.</em> (<em>The Encyclopedia Americana</em>, volume XIII, hal. 464)</p>
<p>“Tanggal 14 Februari adalah perayaan modern yang diyakini berasal dari hari dihukum matinya seorang martir Kristen yaitu St. Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M.”</p>
<p><strong>Ketiga</strong>,</p>
<p><em>Valentine, St. priest and physician of Rome who suffered martydorn probably during the persecution under Claudius II in 269. his feast is on 14 Feb. The custom of sending valentines probably had its origin in a heathen practice connected with the worship of Juno Februalis at the Lupercalia(*) or perhaps in the mediaval belief the birds commenced to mate onf 14 Feb.</em> (<em>Everyman’s Encyclopedia</em>, volume XII, hal 388).</p>
<p>“St. Valentine adalah seorang pendeta dan tabib dari Roma yang (dianggap) martir sewaktu kaisar Claudius II pada tahun 269 M. Peringatan tersebut pada tanggal 14 Febuari. Kebiasaan dengan mengirim valentine-valentine berasal dari upacara penyembahan berhala yang dikaitkan dengan peribadatan Juno Februarlis di goa Lupercal, atau (bisa jadi) pendapat bahwa burung-burung kwain pada tanggal 14 Februari.”</p>
<p>(*) <em>Lupercalia merupakan upacara keagamaan (ritual) yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno yang dilaksanakan setiap tahun untuk menyembah dewa Lupercus, yang oleh mereka dianggap sebagai dewa kesuburan, dewa padang rumput dan pelindung ternak. Sebagai suatu upacara ritual kesuburan, Lupercalia juga dihubungkan dengan penghormatan dan penyembahan kepada dewa Faunus sebagai dewa alam dan pemberi wahyu. Upacara atau festival tersebut dipimpin dan diawasi oleh suatu badan kegamaan yang disebut Luperci dan para pendetanya disebut Luperci.</em></p>
<p><em>Setiap upacara Lupercalia dimulai dengan mengorbankan beberapa ekor kambing dan seekor anjing yang dipimpin oleh para Luperci. Upacara tersebut dilakukan di dalam sebuah gua bernama Lupercal, berada di bukit Palatine, yang merupakan salah satu bukit di kota Roma. Setelah itu dua orang Luperci (dalam sumber lain dua orang pemuda) dibawa ke sebuah altar, kemudian sebuah pisau yang berlumuran darah disentuhkan pada kening mereka dan darah itu diseka dengan kain wool yang telah dicelupkan ke dalam susu. Setelah itu kedua orang tersebut diharuskan tertawa.</em></p>
<p><em>Kemudian para luperci memotong kulit kambing yang dikorbankan dan dijadikan cambuk. Kemudian mereka berlari dalam dua geromboloan mengelilingi bukit Palatine dan tembok-tembok kuno di Palatine, mencambuki setiap wanita baik yang mengikuti upacara maupun yang mereka temui di jalanan. Para wanita yang menerima cambukan itu dengan senang hati karena menurut mereka cambukan itu dapat menyebabkan atau mengembalikan kesuburannya.</em></p>
<p><em>Upacara Lupercalia ini terus berlangsung sampai pada masa pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280 – 337 M). Kaisar Romawi ini adalah kaisar pertama pemeluk agama Nasrani. Lewat masuknya agama Nasrani itu dan berbagai jalan yang ditempuhnya, dia memegang peranan penting dalam hal merubah agama yang dikejar-kejar dan diancam sebelumnya menjadi agama yang dominan (bersifat nasional). Pengaruh agama nasrani semakin meluas di kerajaan Romawi dan Dewan gereja memegang peranan penting di bidang politik. Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I merubah bentuk upacara Lupercalia menjadi perayaan purifikasi (pemurnian/pembersihan diri). Dan pada tahun 496 M, Paus Gelasius I mengubah tanggal perayaan purifikasi yang berasal dari upacara ritual lupercalia dan tanggal 15 Februari menjadi tanggal 14 Februari. </em></p>
<p><strong>Keempat</strong>,</p>
<p><em>The St. Valentine who is spoken of as the apostle of Rhaetia, and venerated in passau as its first bishop.</em> (Encyclopedia Briatannica, volume XIV, hal. 949).</p>
<p>“St. Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup yang pertama.”</p>
<p>Kesimpulan dari keempat definisi tersebut adalah Valentine’s day dirayakan untuk mengormati dan mengkultuskan st. Valentine yang dianggap martir yang mati dibunuh pada tanggal 14 Februari 269 M (sumber lain menyebutkan 270 M) dan juga dianggap sebagai seorang utusan dan uskup yang dimuliakan. Pengambilan istilah itu juga dikaitkan dengan Lupercalia, upacara keagamaan orang Romawi Kuno dan juga bahwa burung-burung kawin pada tanggal tersebut.</p>
<p>Nah, saudariku… Apakah engkau tahu apa itu martir? Martir adalah orang yang dianggap mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan (agama). Kini engkau tahu agama apa yang dipertahankan olehnya. <em>Wallahul musta’an.</em> Ya ukhti… bagaimana kita bisa turut serta pada hari yang ditetapkan untuk menghormati orang yang mempertahankan agama yang bukan Islam (ini bukan berarti kita dibolehkan untuk menetapkan hari khusus untuk kematian orang-orang yang mempertahankan agama Islam!).</p>
<p>Dan bila dikaitkan dengan upacara Lupercalia, maka ini juga sangat jauh dari syari’at Islam, bahkan penuh dengan kesyirikan yang merusak tauhid. Lihatlah bagaimana upacara tersebut dilaksanakan untuk menyembah dewa-dewa. Padahal tidak ada yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Belum lagi keyakinan batil tentang pengaruh cambukan yang dapat menyebabkan atau mengembalikan kesuburan. Padahal tidak ada yang kuasa untuk memberi kesuburan pada seseorang sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, <em>“Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”</em> (QS. Asy-Syuura [42]: 50)</p>
<p>Ketahuilah saudariku, tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali meninggalkan jauh-jauh kebiasaan turut serta merayakan hari Valentine ini. Apakah kita hendak turut serta pada acara yang ditetapkan oleh Nasrani untuk mengkultuskan sang uskup yang mati sebagai martir? Padahal kita ketahui orang-orang Nasrani tidak akan senang sampai kita mengikuti agama mereka. Maka senanglah mereka ketika kita turut berbaur dalam hari raya mereka. Karena Rasululllah <em>shollallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.”</em> (HR. Abu Dawud). Atau… apakah kita hendak mendukung pula upacara Lupercalia yang penuh muatan syirik dan kemaksiatan? <em>Na’udzubillah mindzalik.</em></p>
<p>Cukupkanlah diri kita dengan apa yang telah diturunkan Allah dalam Al-Qur’an dan yang diajarkan Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wasallam</em> kepada umatnya. Karena kasih sayang di antara sesama muslim jauh lebih indah dimana Nabi <em>shollallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, <em>“Perumpamaan orang mukmin di dalam saling mencintai, saling mengaishi dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit maka seluruh jasad merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Maka engkau tidak perlu ragu-ragu untuk meninggalkan hari raya tersebut. Bertaubat adalah langkah yang utama dan mulia jika ternyata di hari yang lalu kita menjadi bagian dari perayaan tersebut. Semoga kita terus diberikan hidayah taufik oleh Allah untuk menjalankan amalan sesuai tuntunan syari’at. <em>Aamiin.</em></p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<ol>
<li>Majalah <em>As Sunnah</em> edisi 11 tahun I.</li>
<li><em>Riyadush Shalihin</em> – edisi Indonesia – karya Imam Nawawi jilid 1. Takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Duta Ilmu.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam dari <a href="http://muslimah.or.id/aqidah/ada-apa-di-balik-valentines-day.html" target="_blank">Muslimah.or.id</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/ada-apa-di-balik-valentine%e2%80%99s-day" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/ada-apa-di-balik-valentine%e2%80%99s-day" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/ada-apa-di-balik-valentine%e2%80%99s-day/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Merayakan Valentine’s Day</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/hukum-merayakan-valentine%e2%80%99s-day</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/hukum-merayakan-valentine%e2%80%99s-day#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 06:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>

		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Disusun ulang oleh: muslimah.or.id
Diambil dari Fatwa-Fatwa Terkini jilid 2
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi
Pertanyaan:
Akhir-akhir ini telah merebak perayaan valentine’s day terutama di kalangan para pelajar putri, padahal ini merupakan hari raya kaum Nasrani. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dan saling bertukar bunga berwarna merah. Kami mohon perkenanan syaikh untuk menerangkan hukun perayaan semacam ini, dan apa saran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disusun ulang oleh: muslimah.or.id<br />
Diambil dari <em>Fatwa-Fatwa Terkini</em> jilid 2<br />
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Akhir-akhir ini telah merebak perayaan valentine’s day terutama di kalangan para pelajar putri, padahal ini merupakan hari raya kaum Nasrani. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dan saling bertukar bunga berwarna merah. Kami mohon perkenanan syaikh untuk menerangkan hukun perayaan semacam ini, dan apa saran syaikh untuk kaum muslimin sehubungan dengan masalah-masalah seperti ini. Semoga Allah menjaga dan memelihara syaikh. <span id="more-437"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak boleh merayakan valentine’s day karena sebab-sebab berikut:</p>
<p>Pertama: bahwa itu adalah hari raya bid’ah tidak ada dasarnya dalam syari’at.</p>
<p>Kedua: bahwa itu akan menimbulkan kecengengan dan kecemburuan.</p>
<p>Ketiga: Bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dengan tuntunan para salaf <em>radhiyallohu’anhum</em>.</p>
<p>Karena itu pada hari tersebut tidak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah ataupun yang lainnya.</p>
<p>Hendaknya setiap muslim merasa mulia dengan agamnya dan tidak merendahkan diri dengan menuruti setiap ajakan. Semoga Allah Subhanahu wata’alla melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi dan semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjuk-Nya.</p>
<p><em>Fatwa Syaikh Ibnu Ustaimin</em>, tanggal 5/11/1420 H yang beliau tanda tangani</p>
<p>***</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Setiap tahunnya pada tanggal 14 februari sebagian orang merayakan valentine’s Day. Mereka saling bertukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat dan sebagian toko atau produsen permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dengan gambar hati, bahkan sebagian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus untuk hari tersebut. Bagaimana pendapat syaikh tentang:</p>
<p>Pertama: Merayakan hari tersebut?</p>
<p>Kedua: Membeli produk-produk khusus tersebut pada hari itu?</p>
<p>Ketiga: Transaksi jual beli ditoko (yang tidak ikut merayakan) yang menjual barang yang bisa dihadiahkan pada hari tersebut kepada orang yang hendak merayakannya?</p>
<p>Semoga Allah membalas syaikh dengan kebaikan.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Berdasarkan dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dalam islam hanya ada dua; Idul Fitri dan Idul Adha selain itu semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid’ah, kaum muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya dan membantu terselenggaranya karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dengan begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah ber-<em>tasyabbuh</em> dengan mereka dan loyal terhadap mereka di dalam kitab-Nya yang mulia dan telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em> bahwa beliau bersabda,</p>
<p><em>“Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.”</em> (HR. Abu Daud)</p>
<p>Valentine’s Day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya Nasrani, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat bahkan seharusnya meninggalkannya dan menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah dan Rosul-Nya serta untuk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan baik itu berupa iklan dan sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat terhadap Allah dan Rosul-Nya sementara Allah Subhanahu wata’alla telah berfirman:</p>
<p><em>“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.”</em> (QS. Al Ma’idah: 2)</p>
<p>Dari itu hendaknya setiap muslim berpegangteguh dengan Al kitab dan As sunah dalam semua kondisi lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat dan orang-orang yang fasik yang tidak mengajarkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati Islam. Dan hendaknya seorang muslim kembali kepada Allah dengan memohon petunjuk-Nya dan keteguhan didalam petunjuk-Nya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjuk-Nya selain Allah Subhanahu Wata’alla. Hanya Allah-lah yang kuasa memberi petunjuk.</p>
<p>Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p><em>Fatwa Al-Lajnah Ad-Da imah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta</em> (21203) tanggal 22/11/1420 H</p>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam dari <a href="http://muslimah.or.id/aqidah/hukum-merayakan-valentines-day.html" target="_blank">Muslimah.or.id</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/hukum-merayakan-valentine%e2%80%99s-day" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/hukum-merayakan-valentine%e2%80%99s-day" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/02/05/hukum-merayakan-valentine%e2%80%99s-day/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memenuhi Hak-hak Isteri</title>
		<link>http://artikelislam.e-salim.com/2010/01/13/memenuhi-hak-hak-isteri</link>
		<comments>http://artikelislam.e-salim.com/2010/01/13/memenuhi-hak-hak-isteri#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 03:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artikelislam.e-salim.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Agar tidak terjadi salah faham bahwa agama Islam anti kesetaraan gender dan hanya menekankan hak-hak suami sedang hak-hak isteri diabaikan, maka saya perlu mengimbangi hak-hak suami denngan menguraikan hak-hak isteri secara rinci. Adapun hak-hak isteri atas suami sebagai berikut: 

Selalu menghormati dan tidak boleh menghinanya.
Bersikap lemah lembut dan mencandainya.
Berkasih sayang dan menaruh rasa iba.
Memberi nafkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agar tidak terjadi salah faham bahwa agama Islam anti kesetaraan gender dan hanya menekankan hak-hak suami sedang hak-hak isteri diabaikan, maka saya perlu mengimbangi hak-hak suami denngan menguraikan hak-hak isteri secara rinci. Adapun hak-hak isteri atas suami sebagai berikut: <span id="more-434"></span></p>
<ol>
<li>Selalu menghormati dan tidak boleh menghinanya.</li>
<li>Bersikap lemah lembut dan mencandainya.</li>
<li>Berkasih sayang dan menaruh rasa iba.</li>
<li>Memberi nafkah sesuai dengan kebutuhan wajarnya.</li>
<li>Bersabar atas sikap kekanak-kanakan isteri.</li>
<li>Bersikap dewasa ketika isteri sedang marah.</li>
<li>Membantu pekerjaan rumah sebisa mungkin.</li>
<li>Menghormati keluarga isteri.</li>
<li>Membantu isteri untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.</li>
<li>Mengajak bermusyawarah dalam segala urusan.</li>
<li>Membantu dalam menegakkan kewajiban agama.</li>
<li>Tidak boleh mencaci makinya.</li>
<li>Tidak boleh memukul wajahnya.</li>
<li>Mengajak bincang-bincang.</li>
<li>Selalu tersenyum di hadapannya.</li>
<li>Menyediakan tempat tinggal sendiri.</li>
<li>Menyediakan pembantu jika perlu dan mampu.</li>
<li>Melindunginya dari setiap mara bahaya.</li>
<li>Menjaga dan melindungi kehormatan dan harga dirinya.</li>
<li>Tidak boleh menuduh isteri tanpa bukti.</li>
<li>Menampakkan kebaikannya.</li>
<li>Menutupi seluruh aib dan kesalahannya.</li>
<li>Tidak menggaulinya dalam keadaan haidh.</li>
<li>Bersabar terhadap tindakan aneh ketika masa haidh.</li>
<li>Tidak boleh mengagetkan ketika pulang dari beperrgian.</li>
<li>Tidak mencemburui berlebihan.</li>
<li>Hendaklah suami berrhias untuk isteri sebagaimana ia senang isterinya berhias untuknya.</li>
<li>Bersikap adil kepada isteri-isterinya bila mempunyai isteri lebih dari satu.</li>
<li>Memberi nafkah untuk anak-anaknya.</li>
<li>Hendaknya memerintah isterinya untuk selalu taat.</li>
<li>Tidak menuntut untuk kerja di luar rumah.</li>
<li>Tidak boleh mengambil maharnya kecuali atas kerelaan hatinya.</li>
<li>Tidak menyuruh mengeluarkan nafkah untuk kebutuhan rumah tangga.</li>
<li>Tidak menyuruhnya menyambut tamu laki-laki atau menampakkan diri di hadapan mereka.</li>
<li>Memberi makan dari apa yang dia makan.</li>
<li>Memberi pakaian sesuai dengan kadar pakaian yang ia pakai.</li>
<li>Hendaknya memenuhi nafkah batin untuk menjaga kesuciannya.</li>
<li>Tidak mengkhianatinya.</li>
<li>Tidak boleh bertindak melampaui batas karena keteledorannya.</li>
<li>Tidak boleh menganiaya meskipun sedang benci.</li>
<li>Memasukkan kegembiraan ke dalam hatinya.</li>
<li>Tidak memberi makan yang haram.</li>
<li>Mengajarkan ilmu agama dan selalu mengingatkan dengan nasehat agama.</li>
<li>Memanggil dengan nama dan sebutan yang paling dicintai.</li>
<li>Memberi hadiah pada kesempatan dan suasana istimewa.</li>
<li>Tidak sering perrgi jauh darinya.</li>
<li>Hendaknya melalaikan berbagai kesalahan yang muncul dari tindakannya.</li>
<li>Berusaha menjaga dirinya dari api neraka.</li>
<li>Tidak menghardik dan menghinanya di depan keluarganya dan keluarga suaminya.</li>
<li>Tidak membebani pekerjaan dan tugas diluar kemampuannya.</li>
<li>Meringankan beban dan tugas-tugasnya ketika sedang sakit.</li>
<li>Tidak mudah menjatuhkan thalak sebab thalak adalah perkara halal yang paling dibenci Allah dan Arasy<br />
goncang karena perceraian.</li>
<li>Bersikap jenaka ketika bergaul dengannya.</li>
<li>Tidak putus asa ketika bersikap terlalu mengatur karena hati kaum wanita menjadi luluh dan iba dengan<br />
kebaikan dan kedermawanan.</li>
<li>Tidak boleh mendiamkan kecuali di rumah.</li>
<li>Menyuapi makanan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi.</li>
<li>Tidak boleh mencela masakan meskipun tidak enak.</li>
<li>Antara suami dan isteri tidak boleh melupakan kebaikan dan kelebihan masing-masing.</li>
</ol>
<p>Semua itu dirangkum dalam firman Allah dan juga sabda Nabi:</p>
<blockquote><p>“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya” (Q.S. Al Baqarah [2]: 288)</p></blockquote>
<p>Nabi Sholallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:</p>
<blockquote><p>“Berwasiatlah kepada isteri-isteri dengan kebaikan”</p></blockquote>
<p>Dan juga sabda Beliau Sholallahu ‘alaihi Wassalam:</p>
<blockquote><p>“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya dan aku orang yang paling baik kepada keluargaku”</p></blockquote>
<p>Hendaklah seorang suami memenuhi hak-hak isteri semaksimal mungkin, karena wanita adalah makhluk yang sangat membutuhkan perlindungan. Hidupnya menjadi amanah dan tanggung jawab suaminya. Maka, barangsiapa menunaikan hak-hak tersebut secara normal, berarti ia telah melindungi kehormatan kaum hawa dan menjunjung harkat dna martabat mereka, serta memperlakukan mereka secara adil dan terhormat.</p>
<p><em>[Dikutip dari buku "<a href="http://e-salim.com/product_info.php?products_id=328">Romantika Kawin Muda</a>" karya Al Ustadz Zaenal Abidin Syamsudin, Penerbit; Pustaka Imam Abu Hanifah]</em></p>
<p>***</p>
<p>Artikel Islam <a href="http://e-Salim.com">e-Salim.com</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/01/13/memenuhi-hak-hak-isteri" target="_blank"><img src="http://artikelislam.e-salim.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://artikelislam.e-salim.com/2010/01/13/memenuhi-hak-hak-isteri" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artikelislam.e-salim.com/2010/01/13/memenuhi-hak-hak-isteri/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
